Di keheningan malam, terdengar sayup-sayup bunyi logam dipukul, menggaung lirih seperti gema langkah seorang penjaga yang tengah berpatroli.

Teng! Teng! Teng!

Dentang ketiga, penanda jam sahur di dunia asing ini.

Tanpa disadari siapa pun, beberapa menit sebelumnya, di sebuah tanah lapang tak jauh dari sana, celah ruang bergetar pelan. Sebuah portal dimensi terbuka perlahan, memunculkan dua sosok dari pusaran cahaya—Lynx dan Leena melangkah keluar tanpa suara.

Saat keluar dari portal dimensi, Lynx dan Leena merasakan sedikit pusing, dalam hati mereka berpikir tubuh mereka beradaptasi dengan kondisi dunia yang mereka datangi.

“Lynx, kau yakin Lala ada di tempat ini? Bukankah ia pernah berkata dunia asalnya lebih maju, seperti kota besar?” tanya Leena, matanya menyapu pemandangan sekitar dengan sorot ragu.

Lynx mengangkat kedua bahu, nada bicaranya mengandung kegelisahan. “Aku tidak yakin. Tapi sinyal yang aku ikuti dari mesin itu… menghilang di tempat ini.”

Setelah memastikan kondisi Kael aman, Lynx dan Leena memulai perjalanan mereka menyelamatkan Lala. Untuk membuat portal dimensi, berbeda dengan portal teleportasi yang memiliki ruang dan waktu sama. Untuk membuat portal dimensi biasanya membutuhkan banyak energi dan batu spiritual tingkat tinggi, namun Lynx berhasil mengganti bahan yang diperlukan dengan menggunakan gabungan kekuatan energi iblis yang lebih di terima di dunia Kultivasi dan ditambah sedikit energi saktinya.

Ia melesat ke langit, tubuhnya melayang ringan bagaikan kapas tertiup angin. Dari ketinggian, pandangannya menembus gelap, menyaksikan tiga orang yang sedang berpatroli dengan senter, sementara seorang lainnya menggenggam benda yang membuat alis Lynx mengernyi, sebuah benda kecil, hitam, bercahaya... sebuah alat komunikasi seperti dari dunianya, ponsel bbery.

Lynx turun kembali dengan cepat, wajahnya diliputi keterkejutan.

“Bagaimana, Lynx? Apa yang kau lihat?” tanya Leena cemas, sorot matanya gelisah. Dunia ini asing, dan ia tak tahu apa yang menanti mereka.

Nada suara Lynx berubah, rendah dan mengandung misteri. “Leena… kau tahu apa yang kutemukan?”

Leena terdiam, keningnya berkerut. “Apa kau menemukan Lala?”

“Bukan Lala,” ucap Lynx sambil menunjuk ke kejauhan, “tapi aku melihat beberapa orang mengenakan pakaian yang tak asing—mirip dunia kita. Lihat ke sana.”

Ia menunjuk sebuah menara tinggi yang menjulang di kejauhan. Meski cukup jauh, mata mereka yang telah terlatih dengan energi spiritual mampu melihatnya dengan jelas.

“Itu…” Leena tercekat, lidahnya kelu.

“Iya, sebuah tower. Dan orang-orang itu... menggunakan senter, bahkan ponsel bbery. Dunia ini… terasa sangat mirip dengan dunia kita,” ujar Lynx, nada suaranya berubah menjadi antusias.

“Kita harus menyelidiki lebih jauh. Mungkin… ini memang dunia kita. Tempat asal kita.”

Tubuh Leena bergetar mendengar kata-kata itu. Tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut matanya.

Ia tak ingat sudah berapa lama terpisah dari keluarganya—terdampar di pulau asing, lalu terseret ke dunia para kultivator.

Kini, harapan yang lama padam kembali menyala. Ia menatap sekeliling dengan mata berbinar. Jika benar ini dunia mereka, maka pelukan ayahnya bukan lagi sekadar mimpi.

Tiba-tiba ekspresi Leena berubah, membuat Lynx terkejut.

“Leena, ada apa?” tanya Lynx dengan nada khawatir.

Leena tersenyum, seulas kelegaan dan keyakinan terpancar di wajahnya. Ia memandang tanah tempat mereka berpijak, lalu berkata pelan namun penuh makna, “Lynx, kita tak perlu lagi menebak-nebak. Aku tahu… kita ada di mana sekarang.”


Leena melangkah cepat ke sisi sebuah pohon besar di tepi lapangan. Jemarinya menyentuh kulit batang yang kasar, lalu menunjuk sebuah guratan samar yang telah pudar dimakan waktu.

“Lihat ini, Lynx…” suaranya bergetar, matanya menerawang penuh kenangan. “Tulisan ini aku buat sendiri... waktu aku jengkel pada ibu tiriku dan kedua adik tiriku. Aku tak tahu kenapa dulu begitu marah... tapi ini bukti. Tak salah lagi... ini Umbusari, tempat tinggalku.”

Ia menoleh pada Lynx, wajahnya bersinar dengan semangat yang tak bisa disembunyikan. “Ayo! Ikut aku! Rumahku tak jauh dari sini!”

Tanpa menunggu jawaban, Leena melesat ke depan. Langkahnya cepat dan ringan, seperti daun jatuh yang dibawa angin. Lynx mengikutinya dari belakang, tak berkata apa-apa, hanya memandangi sosok Leena yang kini dipenuhi harapan.

Tak butuh waktu lama, sebuah rumah sederhana namun akrab muncul di hadapan mereka. Leena berhenti mendadak. Nafasnya tercekat. Matanya menatap tak berkedip ke arah bangunan itu.

Rumah itu... dindingnya masih sama, warna cat yang sedikit pudar, pintu kayu yang sedikit berderit. Di sinilah ia tumbuh, sejak ayah dan ibunya berpisah, sejak usianya baru tiga tahun, dan ia memilih ikut sang ayah tinggal di tempat ini.

“Ayah…” bisiknya lirih.

Tangannya terulur pelan, mengetuk pintu yang begitu dikenalnya. Tiga kali.

Tok. Tok. Tok.

Beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup berlalu… hingga pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok lelaki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, wajahnya terkejut seketika.

“Leena…? Ini benar kamu nak?”

Air mata mengalir dari mata lelaki itu. Ia melangkah maju, memeluk putrinya erat-erat seakan takut bayangannya akan lenyap jika dilepas.

“Anakku… Leena… kau benar-benar kembali…!” isaknya. Sosok itu adalah Suwanto, seorang ayah yang menanggung rindu tanpa kabar dari anaknya.

Leena membalas pelukan itu erat. “Ayah… aku pulang.”

Tangisan tumpah di pelataran rumah itu, membasuh sepi yang lama bertahan di hati mereka.

Tak lama, dari balik pintu, seorang wanita muncul bersama dua anak perempuan yang lebih muda. Leena mengenali wajah mereka—ibu tiri dan kedua adik tirinya.

Semua menatapnya dengan mata membelalak, tak percaya.

"Leena, kamu kembali? Darimana saja kamu selama ini?" Tanya ibu tirinya dengan nada datar namun sorot matanya tidak dapat menutupi keterkejutannya.

Leena melepaskan diri perlahan dari pelukan ayahnya, lalu menoleh pada Lynx yang berdiri tak jauh.

“Ini temanku, namanya Lynx. Tanpa dia... aku mungkin tak bisa kembali.”

Suwanto melangkah maju, mengusap air matanya, lalu menepuk bahu Lynx dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih, Nak… terima kasih telah menjaga anakku.”

"Ayo masuk, aku ingin tahu apa yang terjadi dengan kalian selama ini?" Kata ayahnya sambil menarik tangan anaknya.

"Nining, bantu ibu menyiapkan makanan. Mbak mu pasti sudah lelah." Kata Ibunya kepada putrinya yang lebih muda.

Saat orang tuanya berpisah, ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya yang sudah memiliki seorang putri. Dari pernikahan mereka, Leena mendapatkan seorang adik pria bernama Chandra.

Leena memandang kearah Lynx, berharap Lynx mau ikut masuk untuk dapat merasakan kebahagiaan yang dia rasakan karena berkumpul dengan keluarganya kembali.

"Masuklah, kamu pasti ingin berkumpul dengan keluargamu. Aku juga akan menemui keluargaku. Aku yakin mereka juga merasa cemas." Kata Lynx dengan tatapan mata penuh kasih. Dia ingin memeluk dan membelai rambut Leena namun melihat kedua orang tua Leena memperhatikannya, dia mengurungkan niatnya.

Leena mengenggam tangan Lynx dan menatapnya dengan penuh kehangatan,"Jangan lupakan aku ya. Dan salam untuk keluargamu disana. Aku akan menyusulmu setelah bertemu semua keluargaku."

Lynx menganggukkan kepalanya, dan berpamitan kepada keluarga Leena. 

Sambil mencari lokasi yang tidak menarik perhatian orang, Lynx memikirkan kembali rencana mereka yang berubah. Seharusnya mereka menolong Lala, namun jejak Lala justru terputus di tempat ini.

Lynx sangat yakin jika Lala tidak mungkin di dunia ini, karena banyak cerita yang disampaikannya sangat berbeda dengan dunia yang dia kenal, terutama mahluk mutan. Itu saja sudah sangat berbeda, karena di sini, didunianya, mutan hanya ada di televisi.

"Setidaknya aku sudah menemukan duniaku. Mengenai Lala, tidak ada petunjuk lain untuk menemukannya." Lynx mengeluarkan mesin milik Lala.

Lynx menghela napas panjang sambil memandangi mesin tersebut, "Sayang alat ini rusak, seandainya tidak rusak, aku bisa mencoba memeriksa menggunakan komputer dan mengisi dayanya disini."

Sambil menyimpan kembali alatnya, "Aku akan mencari seseorang yang ahli di dunia ini untuk dapat memperbaiki dan 
membantuku menemui Lala."

Lynx segera memperhatikan keadaan sekitar. Setelah merasakan keadaan aman, Lynx dengan cepat melayang ke atas awan. Tanpa Lynx sadari, banyak mata yang memperhatikan dirinya saat mendadak menghilang.